Definisi / Pengertian Sentralisasi dalam Ilmu Ekonomi Manajemen

Minggu, 11 April 20100 komentar

SENTRALISASI

Sentralisasi adalah memusatkan seluruh wewenang kepada sejumlah kecil manajer atau yang berada di posisi puncak pada suatu struktur organisasi. Sentralisasi banyak digunakan pada pemerintahan lama di Indonesia sebelum adanya otonomi daerah.

KELEMAHAN DAN KELEBIHANNYA

Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah. Kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama.Pada sistem pemerintahan yang terbaru tidak lagi menerapkan sistem pemerintahan sentralisasi, melainkan sistem otonomi daerah atau otda yang memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan yang tadinya diputuskan seluruhnya oleh pemerintah pusat. Kelebihan sistem ini adalah sebagian keputusan dan kebijakan yang ada di daerah dapat diputuskan di daerah tanpa campur tangan pemerintah pusat. Namun kekurangan dari sistem ini adalah pada daerah khusus, euforia yang berlebihan dimana wewenang itu hanya menguntungkan pihak tertentu atau golongan serta dipergunakan untuk mengeruk keuntungan para oknum atau pribadi. Hal ini terjadi karena sulit dikontrol oleh pemerinah pusat.

Sentralisasi

  • Dari segi ekonomi, efek positif yang di berikan oleh sistem sentralisasi ini adalah perekonomian lebih terarah dan teratur karena pada sistem ini hanya pusat saja yang mengatur perekonomian. Sedangkan dampak negatifnya adalah daerah seolah-olah hanya di jadikan sapi perahan saja dan tidak dibiarkan mengatur kebijakan perekonomiannya masing- masing sehingga terjadi pemusatan keuangan pada Pemerintah Pusat.
  • Dari Segi Sosial Budaya Dengan di laksanakannya sistem sentralisasi ini, perbedaan-perbadaan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia dapat di persatukan.Sehingga, setiap daerah tidak saling menonjolkan kebudayaan masing-masing dan lebih menguatkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang di miliki bangsa Indonesia .
  • Dari Segi Politik Dampak positif yang dirasakan di bidang politik sebagai hasil penerapan sistem sentralisasi adalah pemerintah daerah tidak harus pusing-pusing pada permasalahan yang timbul akibat perbedaan pengambilan keputusan, karena seluluh keputusan dan kebijakan dikoordinir seluruhnya oleh pemerintah pusat. Sehingga keputusan yang dihasilkan dapat terlaksana secara maksimal karena pemerintah daerah hanya menerima saja. Sedangkan dampak negatif yang di timbulkan sistem ini adalah pemerintah pusat begitu dominan dalam menggerakkan seluruh aktivitas negara. Dominasi pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah telah menghilangkan eksistensi daerah sebagai tatanan pemerintahan lokal yang memiliki keunikan dinamika sosial budaya tersendiri, keadaan ini dalam jangka waktu yang panjang mengakibatkan ketergantungan kepada pemerintah pusat yang pada akhirnya mematikan kreasi dan inisiatif lokal untuk membangun lokalitasnya.

Trend Sentralisasi

Awalnya sentralisasi identik dengan paham sosialis. sebuah ideologi yang muncul sebagai reaksi atas liberalisme. Berbeda dengan Liberalisme yang menjunjung tinggi individualitas, Sosialisme menitikberatkan pada koletivitas terhadap usaha individu dalam kelompok untuk saling mensejahterakan satu sama lain. maka tak heran jika ciri utama dari paham ini adalah pemerataan sosial dan penghapusan kemiskinan. Yang dimungkinkan terjadi jika terdapat satu komando kepemimpinan terpusat (sentral) yang berwenang dalam menyetarakan hak-hak individu.

Hal ini pernah terjadi di Indonesia. 32 tahun di dalam rezim orde baru nampaknya dijadikan pelajaran. Dimana sentralisasi pemerintah mengakibatkan terhambatnya sebagian besar sistem ekonomi, sarana/prasarana di daerah. Idealnya hal ini tidak terjadi, jika pemerintah dapat mengalokasikan secara adil pendapatan pusat pada daerah ataupun pendapatan daerah yang disetorkan pada pemerintah pusat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya alokasi tak jelas dan disalahgunakan oleh pimpinan daerah kala itu.
Tentunya Indonesia belajar dari pengalaman. Sistem sentralisasi berubah menjadi desentralisasi saat reformasi bergulir. Kewenangan daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri akhirnya terwujud. ditambah dengan adanya UU tentang Otonomi daerah, jadilah sistem ini (desentralisasi) menjadi sebuah trend yang diminati pada fase-fase awal reformasi. Namun kini, trend tersebut nampaknya telah hilang kepopulerannya. setidaknya di tataran yang lebih mikro. Mari kita tengok satu persatu.

1. Universitas Indonesia


keuangan dan administrasi kini terpusat. Hingga setiap persoalan yang terkait keuangan dan administrasi harus diketahui oleh pihak rektorat. Dekan pun dipilih oleh rektorat. Dimana salah satu kriteria utama yang saya dengar dalam pemilihan dekan adalah sejauh mana si calon dekan dapat menyanggupi dan bersedia menerima arahan dan putusan dari rektor. Kalau ia sepenuh hati patuh pada rektor, maka terpilih lah ia. Saya pun berpikir Bahkan untuk sekedar meminta izin tempat memakai ruangan di fakultas nantinya harus mengurus ke rektorat. Betapa merepotkannya.

2. Sistem dan Struktur DK


dulu desentralisasi, dimana setiap daerah ada pemimpinnya masing-masing. Kini menjadi terpusat, menghegemoni keseluruhan sistem, dan tak ada lagi pemimpin daerah. kini yang ada hanya koordinator, gubernur kalau memakai istilah dari salah seorang kawan. Boleh-boleh saja jika karakter masing-masing daerah dipahami dengan baik oleh pusat. Namun yang terjadi adalah kesan otoriter dan arogan. Tanpa mempertimbangkan kekhasan setiap daerah dan individual differences tiap anggotanya. Tapi tetap, saya berpandangan mungkin ini yang terbaik untuk saat ini.

3. Stasiun TV Nasional


Pemerintah memastikan bahwa mulai Januari 2010, lembaga penyiaran stasiun televisi nasional akan dihapuskan. Sehingga nantinya yang dapat beroperasi secara nasional hanya TVRI. Keputusan ini merujuk pada UU No 32/Th.2002 tentang Penyiaran Berjaringan dan Peraturan Menkominfo No 32/Per/M.Kominfo/12/2007 mengenai penerapan sistem jaringan lembaga jasa penyiaran televisi. Mungkin maksudnya baik agar terjadi desentralisasi penyiaran dan tidak lagi ada sentralisasi penyiaran yang hanya berada di Jakarta. Tapi saya melihatnya sebagai sebuah sentralisasi informasi pada satu stasiun televisi yakni TVRI saja.

Itu beberapa contoh dari trend sentralisasi yang berkembang. Menariknya adalah halini terjadi kala negara kita menggaungkan sistem desentralisasi. Padahal dulu saat indonesia identik dengan sistem sentralisasi, dalam lingkup yang mikro banyak yang menerapkan sistem desentralisasi. Mungkin ini yang namanya kompensasi dan reaksi atas kekecewaan sistem sentralisasi Indonesia terdahulu. Entah lah, yang jelas Sentralisasi kembali menjadi trend dan sepertinya lebih baik dalam aplikasi di lapangan dibandingkan rezim orde baru.

http://google.com

http://multiply.com/journal/item/123

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Rosma
Copyright © 2011. Rosma - All Rights Reserved
Published by Hafid Cyber
Proudly powered by Blogger