Ekonomi Global Saat ini

Senin, 24 Juni 20130 komentar

Kondisi global masih bergejolak, Bank Dunia himbau negara-negara berkembang untuk melindungi pertumbuhan ekonomi

WASHINGTON, 15 Januari, 2013 – Krisis global sudah empat tahun berjalan namun kondisi perekonomian global tetap rapuh, dan pertumbuhan di negara-negara berpendapatan tinggi masih lemah. Laporan Global Economic Prospects Bank Dunia yang dirilis hari ini menyebut, negara-negara berkembang perlu meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi yang mereka miliki. Negara-negara ini juga perlu melindungi diri dari risiko-risiko yang bisa muncul akibat Zona Euro dan kebijakan fiskal di Amerika Serikat.

“Pemulihan ekonomi tetap rapuh dan tidak menentu, menghalangi prospek perbaikan yang cepat dan pertumbuhan ekonomi yang kuat,” kata Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim. “Sejauh ini ketahanan perekonomian negara-negara berkembang terbukti lebih kuat. Namun kita tidak bisa tunggu sampai pertumbuhan di negara-negara maju pulih kembali, sehingga kita harus terus mendukung negara-negara berkembang melakukan investasi di bidang infrastruktur, kesehatan dan pendidikan. Investasi ini akan membantu negara-negara ini mencapai potensi pertumbuhan mereka di masa mendatang.”

Tahun lalu, negara-negara berkembang mengalami laju pertumbuhan yang paling lambat sepanjang satu dekade terakhir, antara lain karena ketidakpastian situasi Zona Euro di bulan Mei dan Juni 2012.  Sejak itu, kondisi pasar finansial mengalami perbaikan cukup signifikan. Arus modal asing ke negara-negara berkembang , yang turun 30 persen di triwulan kedua 2012, kini telah pulih dan bunga surat utang negara berada dibawah level rata-rata 282 basis poin. Pasar saham negara berkembang naik 12.6 persen sejak Juni, sementara pasar ekuitas negara maju naik 10.7 persen. Kendati demikian, dampak kenaikan ini pada ekonomi riil tergolong moderat. Output negara berkembang mengalami peningkatan, namun tertahan oleh investasi lemah dan aktivitas industrial di negara-negara perekonomian maju.

“Dari harapan akan pemulihan berbentuk U (ditandai turunnya pertumbuhan PDB sebelum akhirnya naik kembali dan menguat), kemudian pemulihan berbentuk W (pemulihan dari resesi double-dip), prospek pertumbuhan global semakin sulit diprediksi. Dengan pemerintah negara-negara maju kini tengah berusaha membuat kebijakan fiskal yang lebih berkelanjutan, negara-negara berkembang sebaiknya tidak terlalu k hawatir untuk mengantisipasi setiap gejolak yang dialami negara-negara maju, tetapi lebih baik memastikan kebijakan fiskal dan moneter mereka cukup kuat dan responsif terhadap kondisi domestik,” kata Kaushik Basu, Wakil Presiden Senior dan Ekonom Utama Bank Dunia

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan PDB global naik 2.3 persen di 2012, dibanding perkiraan bulan Juni lalu sebesar 2.5 persen. Pertumbuhan diharapakan akan tetap berkisar pada plevel 2.4 persen di tahun 2013, sebelum kemudian menguat menjadi 3.1 persen di 2014 dan 3.3 persen di 2015. PDB negara berkembang diperkirakan akan naik ke level 5.1 persen di 2012, dan diproyeksikan menguat ke 5.7 persen di 2013, dan kemudian terus  menguat ke 5.8 persen di 2014 dan 2015. Pertumbuhan di negara-negara maju diturunkan dari perkiraan-perkiraan semula, yakni ke level 1.3 persen untuk tahun 2012 dan 2013, sebelum kemduain menguat ke 2.0 persen di 2014 dan 2.3 persen di 2015. Sementara pertumbuhan di Zona Euro diperkirakan baru akan menguat di tahun 2014 – PDB Zona Euro diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 0.1 persen di 2013, sebelum kemudian menguat ke 0.9 pesen di 2014 dan 1.4 persen di 2015. Secara umum, perdagangan barang dan jasa  secara global – yang hanya tumbuh 3.5 persen di 2012 – diperkirakan akan menguat ke level 6.0 persen di 2013 dan 7.0 persen di 2015.

“Lemahnya pertumbuhan negara-negara maju juga berdampak pada pertumbuhan negara-negara berkembang. Namun besarnya permintaan domestik dan tumbuhnya keterikatan ekonomi antar negara berkembang telah bantu perkuat ketahanan perekonomian negara-negara berkembang. Alhasil, selama dua tahun berturut, negara-negara berkembang memberi kontribusi terbesar pada pertumbuhan global di tahun 2012,” kata Hans Timmer, Direktur Development Prospects Group Bank Dunia. 

Risiko-risiko terhadap perekonomian global termasuk: lambatnya kemajuan dalam penyelesaian krisis Zona Euro; permasalahan utang dan fiskal di Amerika Serikat; kemungkinan terjadinya perlambatan investasi di China; serta gangguan pada pasokan minyak global. Namun demikian, kemungkinan terjadinya risiko-risiko ini telah berkurang, dan kemungkinan terjadinya pemulihan kuat di negara-negara maju telah meningkat.

Meskipun keberlanjutan fiskal tidak menjadi masalah di sebagian besar negara berkembang, tingkat defisit dan utang saat ini jauh lebih tinggi dibanding tahun 2007.

“Untuk memastikan ketahanan terhadap risiko, negara-negara berkembang perlahan harus membangun kembali sanggahan fiskal dan moneter, serta memperbaiki jaringan pengaman sosial dan ketahanan pangan,” kata Andrew Burns, Manajer unit Global Macroeconomics Bank Dunia dan penulis utama laporan.

Pendapat Tentang perekonomian saat :
Semakin berkembang tingkat pertumbuhan ekonomi maka semakin rapuh perekonomian global sehingga perlu melindungi diri dari resiko yang bisa muncul akibat Zona Euro dan kebijakan fiskal di Amerika Serikat. hal ini sesuai dengan pendapat Menurut Firmanzah, bahwa pemangkasan anggaran pada sejumlah negara juga telah mereduksi kepercayan investor global sehingga supply side menjadi tertekan. Ekonomi Amerika Serikat dan Jepang diperkirakan perlahan membaik sebagai respon dari stimulus fiskal dan moneter yang dilakukan beberapa waktu terakhir namun tetap berisiko bagi negara-negara berkembang. Sementara itu, langkah zona Eropa dalam mengatasi krisis utang di kawasan itu telah membantu pengurangan risiko utama pertumbuhan global dan stabilitas pasar keuangan global. Secara umum, ujar Firmansyah, data-data menunjukkan terjadinya pemulihan ekonomi global secara perlahan, namun masih menyisakan keraguan mengingat pemulihan terjadi tidak merata dan menghasilkan efek yang bervariasi (positif, netral dan negatif).
Terkait dengan risiko meningkatnya hutang disejumlah negara berkembang akibat tingginya biaya hutang,  menurut Firmanzah, Indonesia terus menjaga proposi hutang terhadap PDB dalam batasan aman. Begitu pula dengan defsifit anggaran tetap terjaga pada rentan yang aman di bawah 3 persen. Pemerintah dan DPR telah menyepakati defisit anggaran terhadap PDB pada APBNP 2013 sebesar 2,38 persen sesuai amanat UU. Selain itu juga sejumlah asumsi makro menjadi lebih realistis mengikuti perkembangan situasi global.
Selain itu, upaya untuk menyehatkan fiskal dan ketepatan alokasi anggaran ke sektor-sektor yang lebih produktif harus menciptaan lapangan kerja (job creation) serta daya beli masyarakat yang sangat diperlukan. Dengan melakukan policy response akan sangat menentukan daya tahan perekonomian negara berkembang menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Reff:
 http://www.politikindonesia.com/index.php?k=pendapat&i=45524-Kenaikan%20BBM%20Respon%20atas%20Tantangan%20Ekonomi%20Global

http://www.worldbank.org/in/news/press-release/2013/01/15/wb-urges-developing-countries-safeguard-economic-growth-road-ahead-remains-bumpy

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Rosma
Copyright © 2011. Rosma - All Rights Reserved
Published by Hafid Cyber
Proudly powered by Blogger